22 September 2018
Beranda / Berita / Pegiat Rotan Bahas Sinergi Hulu-hilir Rotan

Pegiat Rotan Bahas Sinergi Hulu-hilir Rotan

pegiat2
Tim dari Prospect Indonesia di Walatana
Para pegiat rotan di hulu dan hilir yang tergabung dalam forum Lembaga Kolaborasi Rotan Ramah Lingkungan (LKRRL) menggelar pertemuan nasional di Palu, Senin, untuk meningkatkan sinergi antara para pemangku kepentingan dan mencari solusi atas permasalahan yang menghmbat pengembangan pengusahaan rotan di Indonesia.

Pertemuan nasional yang berlangsung sehari di Hotel Swiss-Bell Palu itu diikuti 50 peserta dari seluruh Indonesia, antara lain pengusaha hulu dan hilir rotan, peneliti, ahli desain dari Indonesia dan Jerman, pembudidaya rotan, serta jajaran pemerintah dari Kementerian Perindustrian, Perdagangan, Kehutanan dan Kemenko Perekonomian serta jurnalis.

Project Officer Prospect (Promoting Sustainable Comsumption and Production Eco Friendly Rattan) Indonesia Arief Sutte mengemukakan Indonesia yang dikenal sebagai penghasil rotan terbesar dunia telah menjadikan rotan sebagai salah satu isu nasional yang strategis terkait pengembangan ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan khususnya kawasan hutan.

Namun ada sejumlah penghambat bahkan ancaman pengembangan industri rotan nasional yang membutuhkan penanganan secara kolaboratif dan segera serta terus menerus, antara lain penurunan potensi lestari rotan nasional sejalan dengan menurunnya luasan hutan lestari akibat konversi lahan dan penyebab lainnya.

Belum terbangunnya gerakan dan kesadaran membudidayakan rotan, menurunnya minat masyarakat kawasan hutan untuk memanfaatkan rotan sebagai sumber penghasilan karena rendahnya harga bahan baku rotan dan semakin sulitnya mendapatkan bahan baku rotan yang berkualitas bagi industri pengolahan rotan.

Di pihak lain, katanya, inovasi produk berbahan baku rotan selain mebel dan kerajinan belum berkembang dengan baik, menurunnya tenaga kerja yang dapat diserap oleh industri pengolahan rotan serta perkembangan teknologi dalam pengelolaan rotan belum berkembang sebagaimana yang diharapkan.

Karena itu, kata Arief, Forum Lembaga Kolaborasi Rotan Ramah Lingkungan (LKRRL) yang dibentuk oleh Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) melalui program Prospect Indonesia menggelar pertemuan nasional ini sebagai upaya mengkoordinasikan dan membangun sinergi antara pemangku kepentingan serta memberi solusi dan penguatan atas permasalahan yang menghambat pengembangan pengusahaan rotan di Indonesia.

Pertemuan ini, kata Arief, untuk menyusun solusi bersama dalam mendorong budidaya rotan secara lebih masif dengan melibatkan stakeholder di masing-masing daerah dan menyusun rekomendasi bersama dalam mengampanyekan kegiatan revitalisasi hutan melalui penanaman rotan

Merespon kelebihan suplai bahan baku rotan yang tidak terserap di industri dan mencari gap permasalahan yang terjadi dalam soal linkage bahan baku rotan serta berbagi informasi mengenai situasi dan kondisi pengembangan rotan di tiap daerah serta isu-isu strategis industri rotan di tingkat nasional.

“Kita akan mencari solusi mengapa sampai saat ini masih terjadi gap antara hulu dan hiir rotan. Di hulu, masyaraka mengeluh stok rotan menumpuk karena tidak laku sedangkan di hilir mengelh kesulitan bahan baku. Dimana sebenarnya permasalahannya dan bagaimana mengatasinya, ini yang kami bicarakan di sini,” kata DR. Adam Malik, Ketua Forum Stakeholder Rotan (Foster) Sulteng.

Pertemuan nasional ini diharapkan menghasilkan capaian berupa kesadaran untuk menanam rotan, baik pada tingkat petani, industri, pemerintah, memberikan rekomendasi bersama terkait upaya revitalisasi bahan baku rotan serta perkuatan perkuatan mata rantai suplai bahan baku dalam rangka menjaga keberlangsungan produksi produk rotan ramah lingkungan.

Tentang FOSTER SULTENG

Menghimpun seluruh stakeholder terkait untuk upaya bersama dalam pengembangan dan penguatan pengusahaan rotan Sulawesi Tengah.

Baca Juga

Penanaman Rotan di Kawasan Hutan Saluki

Kelompok Usaha Tani melakukan penanaman rotan dikawasan hutan Saluki  

FOSTER-SULTENG